Selasa, 06 Desember 2016



PURPOSIVE BEHAVIOURISM THEORIES EDWARD CHACE TOLMAN
SUATU PENGANTAR BELAJAR


Oleh :
Mashudi Zusro,S.H., M.Si
Sekolah Tinggi Agama Islam Grobogan (STAIG)
Maszoesfizoes@ymail.com
Jl. Kapten Rusdiyat 1 Kablukan Danyang Kec. Purwodadi Kab. Grobogan


ABSTRAK
Edward Chace Tolman merupakan salah satu tokoh psikologi yang berusaha untuk mengembangkan teori-teori belajar yang telah dikemukakan oleh para pendahulunya. Teori Tolman tentang belajar dikenal dengan istilah purposive behaviourism. Teori ini adalah hasil rekayasa dan perpaduan yang cukup hati-hati antara teori belajar psikologi Gestalt dan behavourism. Teori belajar Tolman menekankan pada dasar-dasar teori kognitif yang membedakan teorinya dengan teori S-R yang dikembangkan oleh Thorndike, Skinner, Guthrei dan Hull. Tolman berpandangan bahwa secara obyektif tingkah laku molar itu dapat dipelajari, sebab karakteristik secara umum dari tingkah laku molar[1] adalah memiliki maksud atau tujuan tertentu. Tolman juga berusaha menggabungkan teori behaviourism dengan ide-ide tentang pengetahuan (knowledge), pemikiran (thinking), perencanaan (planning), kesimpulan (inference), tujuan (purpose) dan maksud (intention). Menurut Tolman, tingkah laku (behaviour) itu hanya dapat dideskripsikan sebagai tindakan (action) yang mempunyai maksud atau tujuan tertentu. Sebagai contoh seekor tikus yang lari dari kandang, seekor kucing yang keluar dari kotak, seorang anak yang sembunyi karena melihat orang asing dan lain sebagainya tidak dapat dilihat sebagai suatu tindakan semata-mata, akan tetapi mesti mempunyai tujuan dan maksud tertentu. Tingkah laku tersebut tidak hanya sebagai serangkaian unit analisis yang bersifat psikologis.

I.       Pendahuluan
Dalam mencapai maksud dan tujuan (yang terefleksikan dalam tingkah laku), suatu organisme akan sangat adaptif dan tergantung dengan lingkungan yang melingkupinya. Sebagai contoh, jika seseorang tidak dapat mengendarai mobil untuk pegi ke pasar maka ia dapat naik bus, motor, sepeda atau jalan kaki bila perlu. Tindakan untuk memilih alternatif-alternatif tersebut bukanlah respon yang bersifat refleks (otomatis). Akan tetapi, bergantung pada lingkungan dan situasinya. Hal ini menunjukkan bahwa organisme itu dapat menggunakan elemen-elemen pengetahuan dan menggabungkannya untuk menemukan solusi dalam rangka mencapai tujuan tertentu, seperti menginginkan sesuatu atau menghindari sesuatu. Tolman menyatakan bahwa suatu organisme itu mempunyai:
1.    Pengetahuan tentang lingkungannya
2.    Tempat untuk mendapatkan tujuannya dan
3.    Cara untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain.
Kesatuan pengetahuan tersebut merupakan hubungan antara dua atau lebih stimulus sebagaimana teori classical conditioning pavlov atau antara stimulus, respon dan stimulus yang mengikuti. Tiga istilah terakhir ini kemudian dikenal dengan expectancies (penghargaan/ kesigapan) yang dapat dituliskan dalam rumus (S1-R1-S2) yang berarti organisme itu akan belajar bahwa stimulus (S1) akan memunculkan respon (R1) dan akan diikuti oleh stimulus (S2).[2] Dalam kaitan ini, Tolman melihat bahwa asosiasi antara kedua perangsang itu tidak hanya terjadi secara otomatis belaka tetapi asosiasi itu juga merupakan sesuatu yang sangat berarti atau bermakna. Sebagai contoh tanda bel (sign) bagi anjing berarti bahwa sebentar lagi muncul makanan (significate) yang menimbulkan reaksi dalam mulut sebagai persiapan makan. Anjing sewaktu mendengar bunyi bel itu sudah siap (expectance) melahap makanannya dan berdasarkan pengalaman anjing tahu akan datang perangsang yang menyusul bahkan mengantisipasi dan menantikan perangsang itu. Contoh lain ketika seorang  anak melihat kilat (sign) setelah itu si anak sudah siap dan mengantisipasi bunyi guntur yang keras (significate) yang diketahuinya akan menyusul dan membuat dia merasa terkejut.[3]
Asumsi dasar dalam Teori Tolman adalah pengetahuan itu didapatkan sebagai hasil dari perhatian dan penemuan hewan terhadap peristiwa-peristiwa (event) yang terjadi disekitar lingkungannya dan bukan karena adanya ganjaran (reward). Dengan ini maka Tolman mengasumsikan bahwa dalam konsep (S1-R1-S2), expectancy akan semakin kuat bila hal tersebut terjadi berturut-turut. Begitu juga sebaliknya, jika dalam event berikutnya ternyata R1 tidak diikuti dengan S2 maka expectancy tersebut akan lemah. Jadi dalam konteks ini, expectancy merupakan kontribusi untuk menjelaskan efek dari training, generalisasi, stimulus dan sebagainya. Tolman meyakini bahwa pengetahuan hewan tentang lingkungannya diorganisasikan dalam peta pikirannya (cognitif map). Dengan cognitif map inilah seekor tikus yang dijadikan obyek eksperimen dan diletakkan dalam jaringan ruwet (T-Maze) dapat mengenali lingkungannya sehingga ia dapat melewatinya dengan tepat.

II.           Konsepsi-konsepsi Dasar Purposive Behaviorism Theories
1.    Confirmation Vs Reinforcement
Sebagaimana Guthrie, konsep tentang penguatan (Reinforcement) oleh Tolman tidak dianggap sebagai variabel dalam belajar, akan tetapi ia memunculkan istilah penegasan (Confirmation). Dalam konsepnya tentang cognitif map, Tolman menjelaskan bahwa organisme selalu menggunakan expectancy. Expectancy tersebut kemudian memunculkan suatu praduga tentang akan adanya sesuatu yang terjadi. Expectancy awal yang bersifat sementara itu dinamakan dengan “hipotesis” yang akhirnya hipotesis tersebut mungkin mendapat penegasan (confirmation) akan tetap digunakan, sedangkan hipotesis yang tidak mendapatkan penegasan akhirnya hilang. Melalui proses inilah cognitif map mulai berkembang.
Expectancy yang terus menerus akan mendapatkan konfirmasi dan oleh Tolman disebut dengan keyakinan (belief). Sebab dengan adanya penegasan yang terus menerus akhirnya organisme memiliki keyakinan (beliefing) bahwa jika suatu tindakan dilakukan dengan cara tertentu maka akan menghasilkan respon tertentu pula. Jadi penegasan (confimation) dan expectancy dalam perkembangan cognitif map mirip dengan reinforcement sebagaimana diyakini kaum behaviourist.

2.    Vicarious Trial and Error
Berdasarkan eksperimennya, karakteristik tikus dalam T-Maze digunakan Tolman untuk memperkuat penafsiran belajar kognitif. Karakter yang dimaksud oleh Tolman adalah ketika tikus itu dihadapkan pada alternatif jalur yang dapat dipilihnya, maka ia selalu mengamati sekelilingnya seakan-akan tikus itu memikirkan alternatif pilihan yang ada dihadapannya. Tindakan tikus yang selalu berhenti dan melihat pilihan-pilihan yang ada dihadapannya tersebut disebut dengan Vicarious trial and error. Istilah tersebut digunakan oleh Tolman sebagai ganti dari istilah trial and error kaum behaviourist. Bila kaum behaviourist menganggap trial and error sebagai respon untuk mencoba dan mencoba lagi sampai akhirnya menemukan solusi yang diinginkan, maka Tolman mengganggapnya sebagai ragam pendekatan yang dilakukan oleh organisme sebagai proses kognitif dari pada tingkah laku reflektif.

3.    Learning Vs Performance
Sebagaimana telah dijelaskan oleh Tolman bahwa kita telah mengenal segala sesuatu yang ada pada lingkugan kita, akan tetapi informasi tersebut akan kita wujudkan dalam tindakan bila menginginkannya. Dari sini maka dapat dikatakan bahwa pengetahuan yang kita dapatkan dari belajar (testing reality) akan tersimpan sampai dengan adanya situasi yang membutuhkan transformasi belajar menjadi  suatu tindakan. Sebagai contoh dalam kamar kita terdapat dua botol minuman dan kita tahu bahwa minuman tersebut dapat kita minum, namun kita tidak meminumnya dengan berbagai alasan. Dilain waktu ketika kita haus, kita baru mengambil salah satu botol minuman itu dan meminumnya.

III.        Rumusan Purposive Behaviourism Theories Edward Chace Tolman
Pertama, Ketika dihadapkan pada situasi yang membutuhkan suatu pemecahan masalah (problem solving), organisme akan selalu membawa/memunculkan berbagai macam hipotesis yang digunakan untuk memecahkan problem tersebut. Hipotesis itu muncul dari berbagai macam pengalamannya yang terdahulu. Kedua, Hipotesis yang sesuai (corespond) dengan realita dalam arti sesuai dengan tujuan yang diinginkan akan selalu digunakan (survive) dan menjadi suatu keyakinan (belief). Ketiga, Kemudian setelah selang beberapa lama hipotesis yang telah menjadi keyakinan dalam perkembangan cognitif map, maka hipotesis tersebut akan digunakan kembali dalam kesempatan dan situasi yangs sama. Keempat, Ketika muncul kebutuhan atau motif yang harus dipenuhi, maka organisme akan menggunakan informasi yang telah terbentuk dalam kognitif mapnya. Jadi informasi itu akan selalu ada dalam kognitifnya, akan tetapi hanya digunakan sesuai dengan kondisi.

A.           Berbagai Macam Model dalam Belajar
1.    Latent Learning
Latent Learning adalah belajar yang tidak ditransformasikan dalam perbuatan. Dengan kata lain, Tolman berpendapat bahwa antara saat belajar sesuatu (Learning) dengan dan saat diberikan prestasi sebagai bukti bahwa telah terjadi proses belajar (performance) dapat dipisahkan. Menurutnya, ada kemungkinan bahwa reaksi baru diberikan setelah waktu yang agak lama. Reaksi ini menunjukan bahwa sebelumnya telah terjadi proses belajar. Hal tersebut dibuktikan dengan melibatkan tikus yang tidak lapar menjelajahi T-Maze tanpa mendapat ganjaran, selama sejumlah percobaan. Setelah mereka dijadikan lapar dan diberi ganjaran, maka perjalanan mereka yang sangat cepat menunjukkan bahwa mereka telah belajar secara kebetulan dimasa lalu. Bedasarkan pemikiran ini, dimungkinkan bahwa seseorang manusia dapat memperoleh banyak pengetahuan yang dimilikinya, sampai tibalah saatnya pengetahuan itu dibutuhkan dan diperlihatkan.

2.    Place Learning Vs Response Learning
Tolman meyakini bahwa hewan itu belajar dari tempat dimana ia mendapatkan sesuatu yang diinginkannya. Artinya, adalah hewan itu mempelajari suatu T-Maze dengan isyarat-isyarat tertentu dan ternyata diketahui bahwa ia lebih menyukai melewati tempat yang sama tanpa memandang reaksinya akan tetap sama atau tidak, yaitu bila seekor tikus mengawali perjalanannya dari satu arah yang berbeda maka ia akan menuju pada arah yang sama ketika pertama kali ia menemukan sesuatu yang diinginkannya (reinforcement). Belajar dengan cara seperti itu menurut Tolman lebih mudah dari pada belajar mereaksi (response learning) dengan bukti bahwa tikus belajar melewati tempat yang berbeda-beda akan tetapi selalu membuat belokan sama.

3.    Reinforcement Expectancy
Menurut Tolman, ketika kita belajar maka kita akan mengetahui atau memahami situasi sekelilingnya. Kita belajar untuk mengharap (mendapatkan) peristiwa-peristiwa tertentu yang diikuti oleh peristiwa-peristiwa lain (yang kita kenal sebagai reinforcer). Begitu halnya dengan hewan, ia berangagapan bahwa jika ia pergi kesuatu tempat tertentu maka ia akan memperoleh reinforcer tertentu pula. Teori S-R menyatakan bahwa perubahan reinforcer dalam situasi belajar tidak akan berpengaruh pada tingkah laku, selama kuantitas reinforcer tidak berubah secara drastis (radikal). Meskipun demikian Tolman menyatakan bahwa jika reinforcer itu berubah maka tingkah laku akan terpengaruh, selama dalam penguatan expectancy terdapat reinforcer tertentu yang menjadi bagian dari apa yang diharapkan.



B.            Formalisasi Mac-Corcuodale dan Meehl Terhadap Purposive Behavioursm Theories
Mac-Corquodale dan Meehl (1953) mencoba menyempurnakan teori Tolman, sama halnya dengan yang dilakukan Voeks pada teori Guthrie. Mereka mencoba membuat trem-trem Tolman lebih tepat dan mudah diuji. Sebagian besar hasil usaha mereka telah tertuang dalam buku “an Introduction to the Theories of Learning”ini.
Mereka menggambarkan Teori Tolman dengan teori S1-R1-S2. Dimana S1 mendatangkan expectancy beberapa hal, R1 mengindikasikan hal dimana expectancy dilakukan dan S2 mengindikasikan apa yang dipikirkan organisme akan terjadi sebagai hasil tindakannya. Contohnya jika kita ingin mencari teman (S1) dan kita percaya bahwa saying “hello  (menyapa) (R1) akan menghasilkan balasan “sambutan” hangat dari orang yang kita harapkan (S2). Mereka mencatat bahwa semakin sering S1-R1-S2 ini terjadi, expectancy yang terbangun pun semakin kuat, demikian pula sebaliknya. Mereka juga melakukan generalisasi Teori Tolman dengan mengatakan bahwa jika suatu expectancy ditimbulkan dari S1 maka respon juga bisa ditimbulkan oleh stimuli yang serupa dengan S1.

C.            Enam Bentuk Macam Purposive Behaviourism Theories Tolman
 Pada artikel yang ditulisnya pada tahun 1949 bertajuk “There is More than One Kind of Learning”, Tolman mengajukan 6 macam belajar, yaitu:
1.             Cathexes
Cathexis (plural, cathexes) kembali pada kecenderungan belajar untuk mengasosiasikan objek tertentu dengan dorongan tertentu. Contohnya makanan tertentu pasti sesuai untuk memuaskan dorongan lapar seseorang yang hidup disuatu tempat tertentu. Seseorang yang hidup disuatu daerah yang terbiasa mengkonsumsi ikan akan cenderung mancari ikan untuk memuaskan laparnya dan akan menghindari spageti karena makanan tersebut memiliki assosiasi dengan dorongan lapar mereka. Sama halnya dengan orang Indonesia yang terbiasa mengkonsumsi nasi, pasti juga akan cenderung memilih nasi sebagai makanan ketika lapar.
2.             Equivalence Beliefs
Ketika sebuah subgoal memiliki effect yang sama dengan goal itu sendiri, subgoal tersebut merupakan Equivalence Belief. Equivalence Belief ini oleh para behaviourist disebut sebagai Reinforcement kedua. Tolman merasa bahwa respon organisme terhadap Reinforcement kedua ini lebih banyak didorong oleh social drive dari pada phsychological drive.
3.             Field Expectancy
Field Expectancy dikembangkan dengan cara yang sama dengan cognitif map. Ketika organisme melihat sebuah tanda tertentu (sign) ia pasti berharap tanda tertentu yang lain akan mengikuti (seperti contohnya kita melihat kilat pasti kita juga berharap guntur mengikutinya). Pengetahuan umum lingkungan akan menjelaskan latent learning, latent extinction, dan place learning. Ini bukanlah S-R learning tetapi S-S atau sign-sign, learning.
4.             Field-Coognitif Modes
A Field Cognitif Mode adalah strategi atau jalan atau cara mendekati situasi problem solving. Tolman menduga bahwa kecenderungan untuk memecahkan masalah adalah innate namun dapat dimodifikasi oleh pengalaman.
5.             Drive Discriminations
Drive Discrimination merujuk pada fakta bahwa organisme dapat menentukan dorongan bagi diri sendiri dan karenanya mereka juga mampu merespon dengan benar. Ini ditemukan dalam penelitian Tolman pada binatang tikus yang ditaruh dalam T-Maze. Tikus selalu melewati sebuah jalan yang ada makanannya ketika dia lapar dan melewati jalan yang lain yang ada minumannya ketika dia haus. Tolman percaya pada dorongan sosial disamping dorongan psikologis, drive discrimination menjadi konsep yang penting baginya. Menurutnya seseorang yang tidak dapat menentukan drive statenya dengan jelas, maka kognitif map pun akan sulit dibaca. Akan sangat berbeda bagaimana seseorang, bersikap jika ia butuh cinta dengan bagaimana seseorang bersikap jika ia butuh air.
6.             Motor Patterns
Menurut banyak pakar belajar Tolman yang keenam ini banyak kesamaan dengan teori Guthrie tentang bagaimana response assiated dengan stimuli. Guthrie mengatakan bahwa pada proses conditionin, pada umumnya terjadi proses assosiasi antara unit-unit tingkah laku yang satu dengan yang lain yang saling berurutan. Ulangan atau latihan memperkuat assosiasi stimulus terhadap respon. Motor pattens dengan demikian adalah semacam conditionin atau pembiasaan.

D.           Otokritik Edward Chace Tolman Terhadap Teori
Sebenarnya Tolman telah menyajikan versi pamungkas dari teori belajarnya dalam Phychology : A Study of Science yang diedit oleh Sigmund Koch dan terbit pada tahun 1959, tahun yang sama dimana Tolman wafat. Meskipun sebenarnya tidak ada perubahan mendasar yang dapat kita jumpai pada tulisannya ini.
Lewat statementnya dengan bijak dan terbuka ia mengatakan teori belajarnya terdapat kelemahan dan kekurangan atau bahkan mungkin out of date untuk saat ini dimana perkembangan ilmu sudah meningkat dan penelitian-penelitian serupa telah banyak dilakukan, disamping ia tidak terlalu cermat menggunakan aturan-aturan prosedur ilmiah dan lebih banyak mendekati teori belajarnya dengan perspektif psikologis yang tentu lebih menyenangkan baginya.

IV.        Evaluasi Terhadap Purposive Bihaviourism Theories Edward Chace Tolman, Kontribusi, Kritisisme dan Aplikasi
Diakui atau tidak meskipun nama Tolman tidak sepopuler sang behaviouristik Thorndike, Skinner, Guthrie dan Hull atau sang tokoh psikologi kognitif Gestalt, namun secara brilliant ia telah memadukan dua teori behaviourism dan koginitif dengan apik. Teori Tolman bahkan menjadi bahan kajian para tokoh psikologi kognitif metakhir. Robert C. Bolles dan Albert Bandura adalah tokoh psikologi kognitif yang mengembangkan teori Tolman.[4] Beberapa teori mutakhir yang menegaskan the learning expectancies dan mengklaim bahwa fungsi dari reinforcement adalah untuk memberikan informasi bukan memperkuat. Berhutang banyak pada teori Tolman, dengan kata lain mereka terinspirasi oleh ide gagasan Tolman. Di sisi lain banyak pula para tokoh yang mengkritik teori Tolman, salah satunya adalah Malone (1991). Ia mengemukakan kekurangan dari teori Tolman ini adalah sulit diaplikasikan secara praktis.
Sementara itu, penulis memandang si “easy going” Tolman sebagai seorang yang Truely Electic.[5] Kalau kita cermati teori-teorinya adalah kompilasi-kompilasi dari major Theory of Learning. Olson dan Hergenhahn mengatakan, karena berupa kompilasi-kompilasi itulah maka teori Tolman sedikit membingungkan.[6] Memang tak ada satupun orang yang mampu menentukan mainstream pemikiran dari teori belajar Tolman, apakah ia seorang behaviourist atau cognitivist. Penulis justru berfikir disitulah uniknya Tolman. Sekali lagi ia mampu mengadopsi dua mainstream major of learning. Sungguh ini meruupakan kreatifitas yang luar biasa. Teori Tolman memandang bahwa baik innate demikian ia menyebut hereditas dan environment/experience (lingkungan) memiliki pengaruh pada sebuah proses belajar sama dengan konsep Islam yang juga konfergen.
Sebagai konsekuensinya bila teori Tolman ini kita tarik pada ranah praktis pendidikan, maka akan sangat applicable. Merujuk pada konsep ini, maka pertama, para praktisi pendidikan dan lebih-lebih orang tua yang secara langsung bertanggungjawab pada pertumbuhan dan perkembangan anaknya harus memahami bahwa anak memiliki innate disatu sisi dan oleh karena itu harus mengupayakan agar innate itu bisa dikembangkan, dikenal diekspresikan olehnya dengan merekayasa lingkungan yang dapat menunjangnya disisi yang lain. Kedua, kurikulum dan program pendidikan seharusnya tidak mengabaikan student’s needs, student’s interest dan student’s welfare.

V.           Penutup
Dengan menamakan teorinya sebagai Teori Purposive Behaviourism, Edward Chace Tolman berkeyakinan bahwa :[7]
1.    Belajar pada dasarnya merupakan pemerolehan Cognitif Map yang memberi arah pada tingkah laku.
2.    Organisme membuat berbagai hipotesa mengenai situasi belajar, hipotesa yang cocok atau dapat mencapai tujuan akan terus berlaku.
3.    Expectancy menimbulkan belief bahwa sign (stimulus) akan diikuti oleh sign (stimulus) lain yang tertentu.
Dari deskripsi intisari teori Tolman tersebut, maka tidak salah bila penulis menyebutnya sebagai “The Brilliant Mixer of Behaviourism and Gestalt Theory” yang sebelumnya terkesan berseberangan. Sebagai argumen tambahan, penulis mencoba menghadirkan ungkapan bijak dari Freire bahwa “pendidikan bukanlah suatu hal yang bisa dikemas seenaknya bahkan dipaksakan tanpa ada partisipasi orang yang memperolehnya. Andaikata demikian, maka yang disampaikan paling hanya semacam karikatur dari pendidikan yang semu dan tak bermakna.[8]



DAFTAR PUSTAKA


Freire, Paulo, 2002. Politik Pendidikan: Kebudayaan, Kekuasaan dan Pembebasan, terj. Agung Prihantoro dan Fuad A.F, Yogyakarta, Pustaka Pelajar.

Bower, Gordon.H dan Ernest.P. Hilgard, 1981. Theories of Learning, Engwood Cliff, Prentice Hall, Inc.

Gredler, Margaret E.Bell, 1991. Belajar dan Membelajarkan, terj. Munandir, Jakarta, Rajawali.

Olson, Mattew.H dan Hergenhahn, BR, 1997. An Introduction to Theories of Learning, New Jersey, Prentice Hall International, Inc.

Winkel, W.S, 1997. Psikologi Belajar,  Jakarta, Gramedia.


[1] Molar adalah tingkah laku yang di tuliskan dalam arti non-fisiologis sebagai lawan dari tingkah laku refleks. Seperti tingkah laku binatang yang memperlihatkan tujuan dan dapat diajar. Lihat capli, kamus, 306-307.
[2]. Bower, Gordon H dan Ernest P.Hilgard, 1981.Theories of learning, Engwood Cliff, Prentice Hall, Inc h.328
[3] W.S. Winkel, 1997.Psikologi belajar, Jakarta, Gramedia Pustaka, h.559
[4]Sebagai perbandingan, jika Tolman menyebut Learned S-S and R-S expectancies, Bolles menyebut innate S-S dan R-S expectancies. Lihat, Olson Herghehan, 1997. An Introduction to the Theories of Learning, Prentice Hall, Inc, USA, h.319
[5]Penulis menyebutnya si easy going karena karakternya yang cuek, apa adanya, terbuka, humoris. Baca statement-statement easy going Tolman, h. 317-318.
[6]Olson, Mattew.H and B.R. Hergenhahn, 1997. An Introduction to Theories of Learning, New Jersey, Pretice Hall International, Inc, h.317
[7]Gredler, Margaret E.Bell, 1991. Belajar dan Membelajarkan, terj. Munandir, Jakarta, Rajawali, h.88
[8]Freire, Paulo, 2002. Politik Pendidikan: Kebudayaan, Kekuasaan dan Pembebasan, terj. Agung Prihantoro dan Fuad Arif Fudiyartarto, Yogyakarta, Pustaka Pelajar, h.133

Tidak ada komentar:

Posting Komentar